tumbuhan drasena

TUMBUHAN DRASENA

Tumbuhan drasena berhabitat di hutan karena mereka lahir di tempat teduh di bawah naungan pohon. Selain itu juga tumbuhan ini sangatmudah tumbuh di mana saja. Di tempat yang bersuhu tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Tumbuhan ini tumbuh di tempat yang teduh atau di tanam di pot sebagai tanaman indoor. Tanaman ini juga hidup dan tumbuh di iklim yang lembut.

Tumbuhan drasena ini sangat mudah di perbanyak dengan cara setek ujung batang. Biasanya penyebaran alami tumbuhan ini selalu tumbuh di dekat tumbuhan induknya.misalnya tumbuhan yang baru akan muncul dengan sendirinya di dekat induknya.

Tanaman jenis ini adalah tanaman indoor  (tanaman hias ruangan) yang tahan hidup dengan cahaya minim. Menurut penelitian, tanaman drasena ini berfungsi menyerap polusi udara seperti gas NO pencemaran udara di ubah menjadi NO2 (nitrogen dioksida), gas CO2 (karbondioksida), gas CO (karbonmonoksida).

Spesies dan variasi tumbuhan drasena            :

  1. Dracaena compacta
  2. Dracaena draco
  3. Dracaena fragrans Massangeana
  4. Dracaena godseffiana
  5. Dracaena marginata
  6. Dracaena marginata Tricolor
  7. Dracaena reflexa

  Di masyarakat yang makin padat dan mahal ruangan sekarang ini, rumah dibuat sehemat-hematnya, dengan dapur yang dibangun kecil. Sehabis dipakai memasak cap cay, ruangan berbau seperti restoran Hongkong selama beberapa jam.

     Rumah mungil itu juga dibangun dengan jendela sempit dan lubang ventilasi yang seimbang (sempitnya), sampai peredaran udara kurang lancar. Untuk menukar udara pengap dalam ruangan dengan udara segar di luar tidak selamanya berhasil. Udara di luar rumah kebanyakan tercemar oleh gas buangan kendaraan bermotor di jalan padat yang mepet rumah. Terpaksalah jendela itu ditutup rapat-rapat, agar ruangan rumah tidak kemasukan debu dari jalanan. Dibukanya hanya waktu pagi sebelum jalanan mulai penuh dengan kendaraan bermotor.

 
.

 Akibatnya bertambah runyam. Ruangan sempit kita makin banyak menjebak gas CO2 (karbondioksida) hasil pernapasan kita yang terkurung seharian dan semalaman. Juga gas CO (karbonmonoksida) dan NO (nitrogenmonoksida) hasil gas buangan kendaran bermotor di jalan dekat jendela.

     Menghalau gas pencemar udara dari ruangan tidak mungkin dengan membuka jendela yang sempit itu lebar-lebar, tetapi bisa dengan bertanam tanaman hijau dalam pot yang ditaruh dalam ruangan. Tanaman ini mampu membersihkan gas-gas itu.

     Sudah terbukti sejak lama, bahwa tanaman hijau yang menerima cahaya matahari berfotosintesis menyerap CO2 dari udara tercemar, dan memberikan oksigen murni sebagai hasil sampingan fotosintesis kepada udara di sekitarnya. Kalau proses ini kita selenggarakan dalam ruangan sempit rumah kita, maka ruangan ini terasa segar karena sudah dibersihkan diam-diam tanpa banyak bicara.

     Tanaman yang dipakai harus jenis-jenis yang memang tanaman indoor (tanaman hias ruangan) yang tahan hidup dengan cahaya minim, karena pada dasarnya mereka lahir di tempat teduh di bawah naungan pepohonan.

     Sebaiknya memilih tanaman yang lebar-lebar permukaan daunnya, seperti kuping gajah, kalatea, dipen bahagia, dan drasena.

     Tanaman yang kurang lebar daunnya juga boleh, seperti paku-pakuan, palem kuning, drasena, lili paris, tapi jumlahnya terpaksa diperbanyak.

     Agar tidak merana hidupnya, tanaman perlu diberi iklim yang lembut. Tidak terlalu panas seperti dekat kompor misalnya. Atau dekat jendela yang disinari matahari terik. Pot tempat mereka harus ditaruh di pojok ruangan yang teduh.

     Halaman di luar rumah sebaiknya juga ditanami tumbuh-tumbuhan pembersih udara. Sebab, agak percuma kalau hanya ruangan dalam rumah yang dibersihkan, sedangkan halamam di luarnya tidak dicegah pencemarannya. Untuk ini diperlukan jenis-jenis tanaman lain yang bukan tanaman indoor, tapi tanaman kebun.

     Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Jalan, Departemen Pekerjaan Umum, tanaman perdu puring, sablo, soka, kembang sepatu, dan Mussaenda (Nusa indah) mampu menyerap gas NO pencemar udara, masing-masing sampai 62,5%, 52,2%, 49,6%, 47,9%, dan 52,2%. Gas ini mudah berubah menjadi NO2 (nitrogendioksida) kalau ada udara segar yang mestinya untuk kita. Baik NO maupun NO2 sama-sama berbahayanya kalau kita hirup sepanjang hari sepanjang malam.

 

   

      PEDOMAN PENGENALAN DAN PENGENDALIAN

ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT)

PADA TANAMAN HIAS

(MELATI, GERBERA, DRASENA)

PENDAHULUAN

 

            Tingginya minat masyarakat baik di tanah air maupun permintaan ekspor terhadap tanaman hias dapat menjadi tolok ukur  kesejahteraan, terlihat dari meningkatnya perhatian masyarakat terhadap komoditi tersebut. Hal ini terlihat dengan makin berkembangnya usaha-usaha pembudidayaan tanaman hias dengan orientasi komersial, yang secara tidak langsung dapat menjadi sumber  pendapatan bagi masyarakat pada umumnya

             Berbeda dengan komoditas hortikultura lainnya permintaan akan tanaman hias cenderung berubah sesuai kebutuhan pasar. Sehingga untuk memenuhinya para pemulia (breeder) selalu berkompetisi dalam menghasilkan varietas-varietas baru yang unggul dan dapat menarik para hobiis sehingga menjadi trend pada masa tertentu. Tanaman hias yang cocok dengan agroklimat di Indonesia serta banyak diminati dan berpotensi ekspor antara lain anggrek, mawar, melati, gerbera, dan drasena.

            Melati sebagai puspa bangsa perlu dilestarikan dan ditingkatkan kualitasnya. Selain sebagai tanaman hias pot dan taman, melati biasa digunakan sebagai pengharum teh,  bahan baku parfum, kosmetik dan bahan obat tradisional serta roncean yang dapat dibuat bentuk rangkaian bunga yang mempesona dalam sejuta gaya.

            Selain melati, gerbera juga memiliki prospek yang cerah dalam pengembangannya sebagai bunga potong karena dapat diandalkan untuk komoditas ekspor, penghasil minyak atsiri, bahan baku industri minyak wangi, kosmetika, dan sabun.  Kondisi agroekologis Indonesia mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangannya, baik jenis gerbera lokal maupun introduksi.

            Drasena merupakan tanaman hias berdaun indah yang mempunyai beragam corak dan jenis dengan bentuk daun yang menarik dan berwarna-warni. Disamping ditanam di pekarangan, tanaman ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh di dalam ruangan sehingga banyak dijadikan sebagai tanaman hias indoor.   

            Disamping menciptakan varietas baru, untuk menghasilkan tanaman hias yang indah agar selalu menarik dan mempesona maka perlu diperhatikan aspek budidaya dan pascapanennya. Salah satu aspek budidaya yaitu pemeliharaan meliputi penanganan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang seringkali menjadi masalah karena serangannya dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil yang akhirnya dapat menurunkan harga jual.

            Dalam penanganan OPT tersebut hendaknya dapat menerapkan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT), agar upaya pengendalian yang dilakukan tidak merugikan baik dari sisi ekologis, ekonomis, maupun sosial. Sejalan dengan hal tersebut, maka Direktorat Perlindungan Hortikultura menyusun buku ”Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT pada Tanaman Hias ( Melati, Gerbera, Drasena )” untuk dapat digunakan baik oleh petugas, petani maupun masyarakat lainnya.

 

 

ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT)

PADA TANAMAN DRASENA

(Dracaena sp.)

1.      Hama

a.      Tungau (Tetranychus sp.)

Ordo                : Acarina

Famili              : Tetranychidae

1)      Tanaman inang

Hama bersifat polifag dan merupakan jenis yang paling umum di daerah tropis. Tanaman inang antara lain singkong, kapas, leguminosa, jeruk, karet, jarak, pepaya, tanaman hias (krisan, drasena) dan gulma terutama golongan kotiledon.

2)       Gejala serangan

Hama ini sering dijumpai pada tanaman drasena dan menyerang sisi bawah daun dengan mengisap cairan daun sehingga menyebabkan tanaman menjadi layu. Pada serangan berat, daun menjadi mengeriting dan kerdil.

3)      Biologi

Tungau berwarna merah, berukuran sangat kecil yaitu 0,2 mm sehingga sukar dilihat dengan mata telanjang. Tungau dapat dijumpai pada daun, pelepah daun dan bagian-bagian tersembunyi lainnya. Telur tungau berwarna merah, bulat dan diletakkan membujur pada permukaan atas daun.

4)      Pengendalian

Kultur teknis

Memperhatikan naungan terutama pada bagian yang terserang.

Biologi

–         Memanfaatkan musuh alami sebagai predator tungau yaitu Phytoseilus persimilis Athias – Henriot

–         Menggunakan Metarhizium sp. dan Beauveria sp.

Mekanis

Penyemprotan dengan air pada bagian bawah daun

Kimiawi

Sebelum aplikasi akarisida dilakukan pemantauan OPT, dan aplikasinya apabila diperlukan. Pestisida  yang  telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT drasena belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan akarisida sebagaimana tercantum dalam lampiran.

b.      Kutu Putih (Pseudococcus sp.)

Ordo                :  Homoptera

Famili               :  Pseudococcidae

1)      Tanaman inang

Salak, kelapa, jati, kopi, bambu, asam, dadap, durian, jeruk, lamtoro, berbagai tanaman hias seperti gerbera, hibiscus, drasena, helikonia, palm, sikas, alpinia, cordyline, anggrek, anthurium.

2)      Gejala serangan

Serangga dewasa dan nimfa mengisap bagian tanaman, sehingga terjadi perubahan bentuk yang tidak normal. Pada tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas.

3)      Biologi

Kutu dewasa berbentuk bulat memanjat (oval), lunak dengan segmen yang jelas, biasanya tertutup lilin yang berbentuk seperti tepung atau kapas. Warna badannya kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, panjang   3 – 4 mm dan lebar 1,5 – 2 mm.

Telur berwarna kuning yang diletakkan di dalam kantong yang berbulu. Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda, kuning pucat atau merah tua tergantung stadianya. Serangga jantan lebih kecil dari yang betina, mempunyai dua sayap.

Penyebaran kutu dibantu oleh angin, hujan, atau semut. Kutu ini memproduksi embun madu yang sangat disukai oleh semut dan menjadi tempat tumbuhnya embun jelaga. Kutu tersebut menyukai tempat yang agak teduh tetapi tidak terlalu lembab.

4)      Pengendalian

Kultur teknis

Membersihkan gulma yang ada di sekitar tanaman.

–         Penyemprotan dengan menggunakan air.

–         Memangkas dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang.

Biologis

Memanfaatkan musuh alami yaitu predator Coccinelidae (Menochillus sexmaculatus, Rodolia sp., Scymnus sp., Harmonia octomaculata, Micraspis sp.), Chrysopidae (Chrysopa sp., Ankyropteryx octopunclata, Hemerobius sp.), Vespidae (Polytes sp.) 

Kimiawi    

Sebelum aplikasi insektisida dilakukan pemantauan OPT, dan aplikasinya apabila diperlukan. Dalam skala kecil, kutu dapat dihilangkan dengan menggunakan sikat untuk cat dengan ditambahkan insektisida. Pestisida  yang telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT drasena belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan insektisida sebagaimana yang tercantum dalam lampiran.

2.      Penyakit

a.      Hawar daun Colletotrichum gloeosporioides, Stemphylium  lycopersici

1)      Tanaman inang : drasena (Dracaena sanderiana, D. Compacta)

2)      Gejala serangan

Pada daun terutama daun tua yang terlalu banyak menerima sinar matahari, terdapat bercak-bercak besar yang berbatas tidak teratur, sering mempunyai garis-garis sepusat (konsentris). Umumnya dimulai dari ujung atau tepi daun, berwarna coklat atau coklat kelabu. Kadang-kadang bercak mempunyai halo berwarna kuning. 

3)      Epidemiologi

Bercak dimulai dari area kebasahan pada luka atau tepi daun. Bercak membesar secara cepat menjadi bercak tidak beraturan berwarna abu-abu sampai hitam. Aservuli (badan buah) hitam atau peritesia terbentuk    30 – 40 hari setelah infeksi. Penyakit tersebar baik di dataran rendah maupun tinggi.

4)      Pengendalian

Kultur teknis

–         Penggunaan bibit yang sehat

–         Mengurangi kelembaban pertanaman

Mekanis

Memangkas tanaman atau bagian tanaman yang terserang.

Kimiawi

Sebelum aplikasi fungisida dilakukan pemantauan OPT, dan aplikasinya apabila diperlukan.  Pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT melati belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan fungisida sebagai-mana tercantum dalam lampiran.

b.      Bercak daun Curvularia sp.

1)      Tanaman inang

Palem, melati, kedelai, sorgum, jagung, lada, kenaf, rosella, temu kunci, kencur, kunyit, eceng gondok, drasena.

2)      Gejala serangan

Seringkali pada daunnya terdapat bercak-bercak jorong, berwarna coklat kelabu dengan tepi coklat tua. Kadang-kadang terdapat halo kuning di sekelilingnya.

3)      Epidemiologi

Spora cendawan disebarkan oleh angin dan percikan air. Penyakit lebih banyak terdapat pada tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, misalnya karena kekurangan unsur hara tanaman.

4)      Pengendalian

Kultur teknis

–         Menggunakan benih yang sehat

–         Perbaikan drainase tanah dan sanitasi kebun

Mekanis

Memangkas bagian tanaman yang terserang dan dimusnahkan.

c.       Bercak daun Cercospora sp.

1)      Tanaman inang

Dracaena sanderiana, Dracaena compacta, Dracaena  flacidabenty,  Dracaena angustifolia, dan Dracaena elaides.

2)      Gejala serangan

Serangan berupa bercak coklat, tepi menguning dijumpai pada daun-daun yang sudah menua. Apabila bercak menyatu dapat menyebabkan kematian daun.

3)      Epidemiologi

Penyakit berkembang pada musim hujan dan pada kebun yang pertanaman rapat. Tanaman-tanaman di bawah paranet atau naungan pohon lebih banyak yang terserang dibandingkan dengan yang  ditanam pada lahan terbuka.

4)      Pengendalian

Kultur teknis

–         Menggunakan bibit yang sehat

–         Melakukan sanitasi

–         Mengurangi kelembaban kebun

Mekanis

Memotong daun yang terserang dan memusnahkannya.

Kimiawi

Sebelum aplikasi fungisida dilakukan pemantauan OPT, dan aplikasinya apabila diperlukan. Pestisida yang  telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT melati belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan fungisida sebagai-mana tercantum dalam lampiran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: